Bangun Kemandirian Ekonomi, Seluruh Sektor Harus Terkoneksi

  • Whatsapp
GENJOT EKONOMI - Nara sumber webinar pemanfaatan hasil Interregional Input Output (RIO) dan tabel Input Output 2016 yang digelar BPS Provinsi Gorontalo, secara daring, Kamis (9/9). (foto : jalal / gorontalo post)

GORONTALO-GP – Pandemi covid-19 melumpuhkan perekonomian Indonesia, tak terkecuali Gorontalo. Sejak tahun 2020 lalu, hingga saat ini, pertumbuhan ekonomi daerah ini masih jauh di bawah nasional.
Sebagaimana data diperoleh Gorontalo Post, pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada 2019 lalu, rata rata berada di atas nasional (5 persen), mulai dari 5,71 hingga tertinggi 6,74 persen.

Namun pada 2020 sejak corona terkonfirmasi merebak di Indonesia, perekonomian daerah ini ikut menurun ke posisi empat persen pada triwulan pertama 2020. Kemudian di triwulan dua, ekonomi Gorontalo minus 0,27 persen dan triwulan ketiga minus 0,08 persen sampai pada triwulan empat minus 3,56 persen.

Bacaan Lainnya

Memasuki 2021 terpuruknya ekonomi masih cukup dirasakan pada awal tahun tepatnya triwulan pertama. Dimana saat itu, Gorontalo mengalami pertumbuhan ekonomi minus 1,96 persen. Kemudian pada triwulan dua mulai membaik, naik 3,43 persen (yoy). Di tengah terpuruknya perekonomian ditengah pandemi itu, kemandirian ekonomi dinilai menjadi salah satu solusi yang perlu dilakukan. Untuk mewujudkan kemandirian ekonomi Gorontalo ini, maka sektor sektor potensial perlu untuk lebih diperhatikan.

Sebagaimana yang diungkapkan Dekan Fakultas Ekonomi UNG, Dr. Muhammad Amir Arham, ME, ada beberapa persoalan mendasar yang terjadi di Gorontalo. Mulai dari masalah kemiskinan yang masih cukup tinggi, pengangguran, ketimpangan hingga produktivitas pertanian yang belum kuat.

Dalam menyelesaikan beberapa persoalan tersebut, menurut ekonom Gorontalo ini, seluruh sektor potensial yang ada di Gorontalo harus terkoneksi atau terhubung. Misalnya sektor pertanian. Dimana sektor ini merupakan sektor penyumbang perekonomian di Gorontalo, namun sayangnya di sektor tersebut kemiskinan justru tinggi. “Itu disebabkan output dari sektor pertanian, misalnya produksi jagung tidak memberikan nilai tambah terhadap sektor lain di Gorontalo,” katanya dalam webinar pemanfaatan hasil Interregional Input Output (IRIO) dan tabel Input Output 2016 Provinsi Gorontalo yang digelar, Kamis (9/9).

Dalam webinar yang dimoderatori Mohamad Sirham (Dirut Gorontalo Post) itu, Amir Arham menjelaskan, selama ini, beberapa sektor yang ada di Gorontalo jalan sendiri sendiri, sementara yang seharusnya sektor tersebut ada keterkaitan. “Kita harus mendorong industri industri di Gorontalo yang terkait langsung dengan produksi pertanian yang tinggi di daerah ini,” jelasnya.

Selain itu, untuk memudahkan pemetaan sektor potensial agar pemerintah bisa lebih fokus dalam mendorong sektor tersebut, menurut Amir Arham, IRIO dapat digunakan sebagai rujukan. “Jangan sampai nanti, apa yang kita intervensi dengan dana miliaran rupiah, ternyata di daerah lain nanti sektor itu tidak menjadi input,” tuturnya.

Ia menyarankan beberapa sektor yang perlu didorong di Gorontalo selain pertanian, adalah sektor pendidikan dan kesehatan. Untuk sektor pendidikan Gorontalo sudah memiliki sejumlah sekolah ternama seperti Man Insan Cendekia dan Wirabhakti serta beberapa kampus besar. Dimana cukup banyak masyarakat luar Gorontalo yang menjadikan Gorontalo sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikan di jenjang lebih tinggi.

Untuk sektor kesehatan, rumah sakit Ainun Habibie yang dibangun pemerintah dapat dijadikan sebagai rumah sakit rujukan di kawasan teluk tomini. “Kita harus cari sektor mana saja yang dapat digenjot dan berdampak pada peningkatan lapangan kerja hingga akhirnya dapat berdampak pada penurunan kemiskinan,” ujarnya.

Kepala Bapppeda Provinsi Gorontalo Budiyanto Sidiki, S.Sos., MSi pada saat itu juga mengatakan, membangun kemandirian ekonomi tak bisa diselesaikan hanya dalam kurun waktu 5 tahun. Artinya, harus ada roadmap panjang terkait apa saja hambatan yang dihadapi Gorontalo kedepan.

Menurutnya, di Gorontalo, ada beberapa problem yang sering dihadapi. Yaitu masalah bahan baku, energi (listrik), akses terbatas, infrastuktur dan tenaga kerja. “Nah beberapa problem itu sudah diatasi, misalnya masalah energi kita sekarang surplus,” ujarnya. Tak hanya itu, di Gorontalo, saat ini, sudah mulai tumbuh industri industri yang mengolah hasil pertanian menjadi barang setengah jadi yang dibutuhkan oleh beberapa daerah lain untuk dijadikan bahan jadi.

“Investor itu biasanya ingin membangun industri barang jadi, mereka melihat marketnya harus dekat. Sampai itu mereka banyak yang membangun di Jawa. Nah Gorontalo karena jauh, maka produksi barang setengah jadi menjadi pilihan, karena itu banyak dibutuhkan oleh industri industri di daerah lain,” jelasnya.

Bagaimana dengan akses perhubungan di daerah ini, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Gorontalo. Dr. H. M. Jamal Nganro, ST., MSi mengungkapkan, di Gorontalo semua akses transportasi ada pengembangan yang dilakukan. Mulai dari bandara hingga pelabuhan. Ia juga menyentil soal rencana pemerintah memindahkan ibukota Indonesia ke Kalimantan. Rencana tersebut menurutnya bisa menjadi peluang besar Gorontalo untuk membangun perekonomian. Dimana Gorontalo bisa menjadi daerah transit aktivitas distribusi.

Sementara itu, dalam materi yang disampaikan Inspektur Utama BPS RI, Drs. Akhmad Jaelani, MSi, perekonomian Gorontalo didorong oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan. Sedangkan dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga adalah pengeluaran terbesar. “Dalam rangka memenuhi kebutuhan para perencana dan pengambil kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia maka perlu dilakukan penyusunan alat analisis yang komprehensif menggambarkan aliran produksi, konsumsi, dan distribusi barang dan jasa secara spasial seperti tabel IRIO,” jelasnya.

Ia melanjutkan, sebelumnya BPS sudah pernah menyusun tabel Input-Output (IO) baik nasional maupun regional. Hanya saja, tabel tersebut masih berfokus menjelaskan kinerja perekonomian dalam satu wilayah tertentu saja, sehingga belum dapat menjelaskan tentang interaksi antar wilayah. “Analisis berdasarkan tabel IRIO dapat menjelaskan potensi dan kolaborasi antarwilayah, serta peluang suatu wilayah untuk mengatasi ketimpangan sekaligus penguatan konektivitas,” tuturnya.

Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Mukhamad Mukhanif S.Si, M.Si juga menuturkan, sesuai analisis impor IRIO Gorontalo tahun 2016, impor terbesar Gorontalo pada 2016 berasal dari provinsi DKI jakarta (35,36 persen), Jawa Timur (11,91 persen, Jawa Tengah (11,39 persen), Jawa Barat (6,27 persen) dan Banten 4,89 persen. Sementara impor luar negeri sebesar 7,87 persen. Sektor sektor yang melakukan impor terbesar berupa kebutuhan konstruksi, angkutan darat, perdagangan besar dan eceran (bukan mobil dan sepeda motor), adiministrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial serta listrik.

Sementara dari sisi ekspor, sesuai analisis IRIO 2016, ekspor terbesar Gorontalo bertujuan ke DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Sulawesi Utara, dan Jawa Timur. Ekspor ke luar negeri sebesar 2,49 persen. Sektor dengan kontribusi ekspor terbesar adalah pertanian tanaman pangan, perdagangan besar dan eceran, jasa perantara keuangan selain bank sentral, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib serta perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasinya. “Kondisi perekonomian Gorontalo dapat mempengaruhi proses produksi wilayah lain, terutama di DKI Jakarta, Jateng, Jatim, Kaltim dan Jabar. Sebaliknya kegiatan ekonomi di Gorontalo paling besar dipengaruhi kondisi perekonomian di Sulut, Sulteng, Banten, Sulbar dan Kalimantan Utara,” jelasnya.(dan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *