Tumbilotohe, Budaya Yang Kental Dengan Nuansa Religius

Moh. Karmin Baruadi

Oleh :
Moh. Karmin Baruadi

 

Bacaan Lainnya

Dalam waktu dekat masyarakat Gorontalo seperti biasanya pada tiga malam sebelum berakhirnya bulan suci Ramadhan masyarakat Gorontalo akan melaksanakan perayaan Malam Pasang Lampu yang lebih akrab kita kenal dengan nama Tumbilotohe. Tumbilotohe adalah tradisi adat masyarakat Gorontalo yang merupakan warisan budaya Gorontalo, dan tidak ditemukan di daerah-daerah lain. Pasang lampu atau tumbilotohe dilaksanakan oleh masyarakat muslim Gorontalo selama 3 (tiga) malam berturut-turut.

Dalam prosesi pelaksanannya tidak terdapatadanya simbol verbal karena tidak terdapat syair-syair yang mengiringi prosesinya, yang ada hanya simbol nonverbal (perangkat atau atribut) yang digunakan dalam pelaksanaan tumbilotohe. Proses menyalakan lampu, diawali oleh kepala keluarga sekaligus memimpin dengan membacakan surat Al-Qadaryang diikuti oleh anggotakeluargalainnya. Akan tetapi, hal ini bisa juga dilakukan oleh siapa pun yang tinggal di rumah tersebut, yang terpenting adalah niatnya.

Pembacaan surat Al-Qadar saat melakukan pemasangan lampu atau tumbilotohe, diyakini oleh masyarakat Gorontalo di malam ke-27 sebagai malam turunnya Lailatul Qadaratau dikenal sebagai malam kemuliaan. Selain itu, pada malam itu juga diperingatisebagai malam permulaan turunnya Al-Qur’an. Menurut keyakinan masyarakat muslim Gorontalo pada malam itulah Allah SWT akan mengabulkan doa-doa hambanya yang melakukan amal ibadah dengan sungguh-sungguh di bulan suci Ramadhan bertepatan dengan malam tumbilotohe atau pasang lampu bagi masyarakat Gorontalo.

Dalam pelaksanaannya tumbilotohe menggunakan atribut adat yang semuanya dapat ditemui di alamat atau lingkungan sekitar. Atribut yang terpenting disiapkan berupa perangkat Alikusu (gapura adat) yang dilengkapi dengan perangkat seperti Tohebutulu (lampu botol), Lale (janur kuning), Polohungo (bunga dayoh), Tabongo (bunga lahikit), Patodu (tebu), Lambi (pisang). Berbagai lampu sesuai zamannya seperti Tohe tutu (lampu damar), Padamala (lampu minyak kelapa). Disamping itu sebagai pelengkap disediakan juga Tonggolo’opo (lampion) dan Pollutube (pedupaan).

Secara umum tradisi tumbilotohe memiliki makna bagi masyarakat Gorontalo adalah (1)  sebagai petanda datangnya bulan yang mulia diantara semua bulan yaitu bulan suci Ramadhan, (2) sebagai alat penerangan bagi masyarakat Gorontalo untuk melintasi jalan ke Masjid yaitu tempat masyarakat muslim Gorontalo berkumpul melaksanakan ibadah tarwih dan tadarus sepanjang malam dan (3)  sebagai malam penyambutan kedatangan Lailatul Qadar bagi yang mendapatkan hidayah atas amalannya. Tradisi pemasangan lampu ini dimulai dari malam ke-27 di bulan Ramadhan sampai pada malam ke-29 yang dilaksanakan selama 3 (tiga) malam berturut-turut mulai dari magrib sampai menjelang subuh.

Alikusu sebagai perangkat adat dibuat seperti kubah Masjid, memiliki makna hablum minallah yaitu hubungan manusia dengan Allah Swt. Bentuk kubah Masjid dari arkus tersebut dibuat untuk mengingatkan  manusia agar tetap memelihara hubungan manusia dengan Tuhannya, yaitu menjalankan semua perintahnya.Sebagai atribut perhiasan arkus disediakan Tohe Butulu yang berjumlah sebanyak 5 buah lampu botol, diletakkan atau digantung di palang atas atau palang arkus, yang memiliki makna kewajiban manusia kepada Allah Swt yaitu shalat 5 waktu sesuai dengan rukun Islam.

Cahaya lampunya diibaratkan cahaya Al-Qur’an, yaitu cahaya sebagai penerang kehidupan manusia di dunia dan di akhirat kelak. Lale (janurkuning) memiliki makna simbol yaitu sebagai lambang kesucian dan kemuliaan karena warnanya yang kuning tersebut diibaratkan logam mas yang mengkilap. Polohungo,sejenis daun yang beraneka ragam warnanya yang diikat menjadi satu pada alikusumemiliki makna simbol bahwa dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat pasti akan mengalami warni-warni proses kehidupan, yaitu ada suka ada duka, ada tawa ada sedih, dan dalam kehidupan bermasyarakat pastinya ada perbedaan. Namun, perbedaan tersebut diikat menjadi satu dalam agama yang paling mulia yaitu agama Islam.

Tabongoatau bunga lahikitdianggap memiliki makna sebagai tolak balak. Artinya, penolak atau penangkis segala macam keburukan agar penghuni rumah yang melaksanakan tumbilotohe tidak mudah mendapat musibah terutama penyakit yang dibawa oleh makhluk halus. Patodu (tebu), memiliki makna simbol yaitu pelambang rezeki. Hal ini, karena patodu atau tebu merupakan minuman awal dari sang bayi sebagai pengganti madu. Rasa manisdimaknakanbahwa manusia diharapkan bisa bersikap manis kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari. Lambi (pisang), memiliki makna simbol yaitu sebagai pelambang kehidupan manusia, sebelum ia mati berusaha memberikan hasil kepada manusia. Tohe tutu (lampu damar) memiliki makna keaslian budaya suku Gorontalo.

Tonggolo’opo (lampion) terbuat dari tanaman sejenis wawohu atau bambu kuning/hijau, di bagian atasnya dibungkus dengan kertas minyak atau tas plastik, di dalamnya berisi belahan tempurung kelapa. Makna dari tonggolo’opo adalah cahanya diibaratkan seperti Al-Qur’an untuk menerangi jalan-jalan yang dilewati oleh orang-orang yang akan melakukan ibadah di Masjid yaitu shalat dan tadarus Al-Qur’an.

Padamala (lampuminyakkelapa), memiliki makna simbol potuwoto atau pongototayaitu untuk mengetahui berapa orang yang beragama Islam yang tinggal di rumah tersebut, yang berhasil melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh tanpa putus-putusnya. Pollutube (pedupaan) memiliki makna simbol untuk menyambut Lailatul Qadar ketika setiap orang yang mengeluarkan zakat fitrah atau mengeluarkan sebagian rezekinya kepada orang lain yaitu orang-orang yang tidak mampu seperti anak yatim piatu atau pun fakir miskin yang layak menerima zakat fitrah, diharapkan hati si pemberi zakat fitrah seharum wewangian dari pedupaan tersebut agar sebagian rezekinya yang diberikan kepada orang lain akan mendapat ridha dari Allah Swt.

Sehingga rezekinya mengalir terus, artinya dia akan mendapat rezeki yang lebih banyak lagi dari rezeki yang diberikannya kepada orang lain. Selain itu, pedupaan dengan bahan-bahannya yang harum dan bara apinya yang sudah diberibahan sepertidupadan  kemenyan, memiliki makna simbol yang dipercaya oleh masyarakat Gorontalo yaitu sebagai pengusir roh halus. Artinya, bahan-bahannya yang harum yaitu dupa dan kemenyan dipercaya dapat mengusir roh-roh halus yang datang mengganggu manusia di rumah yang mereka tempati. Hal ini terjadi, karena di malam Lailatul Qadar setiap orang mengharapkan kesehatan, keselamatan, dan kesucian hati untuk beribadah kepada Allah Swt dan di jauhkan dari gangguan iblis.

Kebiasaan tumbilotohe di Gorontalo, pada zaman dahulu dilaksanakan dengan tujuan untuk membantu para warga yang akan menuju Masjid di malam hari, agar lebih mudah dengan dibantu penerangan lampu minyak yang dinyalakan tiap warga di depan rumahnya. Pada waktu dahulu ketika belum ada sarana penerangan, masyarakat dengan kreativitas yang tinggi berusaha menciptakan lampu penerang yang mempermudah mereka secara berbondong-bondong untuk melaksanakan ibadah qiamul-lail(I’tiqab) di masjid dan musholah.

Hal ini menunjukkan bahwa semakin berakhirnya bulan Ramadhan makasemakin semaraklah masyarakat meramaikan masjid dan melaksanakan ibadah secara berjama’ah. Dengan kata lain seiring dengan berakhirnya bulan yang mulia ini masyarakat semakin banyak memenuhi masjid-masjid dan dengan menggunakan sarana penerang yang ada sesuai dengan kondisi zaman dan tempat di mana para jama’ah berada. Pada awalnya menggunakan lampu asli atau tohe tutu (lampu damar), pada zaman berikutnya menggunakan lampu padamala (lampu minyak kelapa), kemudian tohe butulu (lampu minyak tanah), hingga dewasa ini bahkan sudah menggunakan lampu listrik.

Kondisi zaman sekarang yang semakin modern dengan penggunaan lampu penerang yang modern tanpa menggunakan minyak seharusnya menjadikan masyarakat mengalami banyak kemudahan untuk melaksanakan ibadah qiamul-lail di masjid-masjid karena tidak adalagi hambatan soal kegelapan saat bulan di langit making elap. Dengan demikian seharusnyalah ibadah di masjid semakin sering dilakukan dan semarak dengan penerangan lampu listrik dan transportasi yang semakin mudah. Dewasa ini bahkan dalam kaitan dengan perayaan malam pasang lampu yang dapat menjadi destinasi wisata religious di Gorontalo seharusnya ibadah shalat di masjid lebihdiutamakan dan semakinramai.

Tidakmasalahkitamemeriahkanmalam pasang lampu dengan cara masing-masing untuk ke pentingan syiar islamakan tetapi itu dapat kita lakukan setelah melakukan ibadah shalattarwih di masjid.Terdapatduahal yang penting akan makna penerang atau cahaya dalam hal ini. Pertama, cahaya untuk menerangi perjalanan kita menunju tempat ibadah agar diberikan kemudahan untuk beribadah dan kedua adalah cahaya iman yang menerang hati kita menuju kesucian, Kembali kepada kesucian di hari yang fitri, yakni pada saat kita merayakan hari kemenangan yaitu Hari Raya Idul Fitri. Semoga hal ini menjadi perhatian kita semua. Gorontalo, 27 April 2022. (*)

Penulis  : Pemerhati Budaya, Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Univeritas Negeri Gorontalo

Pos terkait