Kasus Bocah Tewas, Ditendang, Diinjak, Digigit, Disulut Api Rokok

Rekonstruksi

Gorontalopost.id – Kejam! Bocah umur lima tahun yang meninggal dunia karena dianiaya orang tuanya sendiri, pada 19 Mei 2022 yang lalu, ternyata mendapat perlakuan penganiayaan bertubi-tubi. Ayahanya, KK alias Kendi, ibu tirinya SWA, dan nenek trinya SI merupakan eksekutor, hingga bocah berambut ikal asal Kotamobagu itu, babak belur dan meninggal dunia.

Hal ini terungkap dalam rekonstruksi kasus pembunuhan anak dibawah umur, yang digelar Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Gorontalo Kota, di tempat kejadian perkara, sebuah rumah kos di Jl Manggis, Kota Gorontalo, Jumat (17/6) kemarin.

Bacaan Lainnya

Sebanyak 27 reka adegan diperagakan KK, SWA, dan SI, ketiganya silih berganti menganiaya korban. Dari puluhan reka adegan itu, SI atau nenek tiri korban yang paling berperan. Bahkan, diduga akibat penganiayaan SI korban sekarat, dan meninggal dunia.

Awalnya, korban yang baru beberapa hari tiba di Gorontalo itu, tinggal bersama ayahnya dan ibu tirinya di rumah kosan itu. SI sang nenek, dan adik tirinya, juga tinggal disitu. Rupanya, kehadiran korban tak diharapkan. Baru beberapa hari, ia sudah menerima tindak penganiayaan.

Yang pertama melakukan adalah KK, ayahnya sendiri. Pada adegan awal, KK menarik tangan korban dan menendangnya di kaki, pun ketika korban duduk di kursi, tanganya ditarik hingga terjatuh ke lantai. Alasanya pun klasik, korban tidak mau makan. Selanjutnya SWA, ibu tiri korban ini menuding korban mengambil duit Rp 5 ribu miliknya, hingga menganiaya di bagian tangan berulang kali.

Yang sadis adalah SI sang nenek tiri. Setelah beberapa hari korban tinggal di rumah kosan itu, KK dan SWA memilih tinggal di rumah kontrakan baru. Praktis yang tinggal disitu adalah SI, korban, dan adik tiri korban. SI mengaku tak terima dijadikan ‘tempat penitipan anak’ dan melampiaskan kekesalanya kepada korban. Bocah berusia lima tahun yang baru hendak masuk TK itu, ditendang di bagian perut, diinjak, digigit, bahkan disulut dengan api rokok.

“Total ada 27 adegan. Dari 27 adegan itu, sang ayah memerankan dua kali adegan, sementara ibu tiri tiga kali adegan. Sisanya sang nenek yang melakukan penganiayaan,”jelas Kepala Satreskrim Polres Gorontalo Kota, IPTU Nauval. Penganiayaan baru berakhir, saat korban benar-benar tak lagi berdaya, pada 19 Mei yang lalu. Korban yang merintih kesakitan itu dibiarkan sang nenek terbaring di kamar. Hingga SWA datang, kemudian berusaha menolong korban yang nampak sekarat itu. Korban dibawa ke rumah sakit, tapi medis saat itu memastikan, korban telah meninggal dunia.

“Sempat dibawa ke rumah sakit. Namun karena banyaknya luka lebam di tubuh korban, mengakibatkan nyawa korban tidak lagi bisa diselamatkan,” tutup Nauval.

Pelaksanaan rekonstruksi kemarin, menyedot perhatian warga. Warga memadati lokasi rekonstruksi dan meneriakan sumpah serapah kepada para pelaku.

“Somo mati di dalam ngana nene, pake hati nene, pembunuh. (akan mati di dalam (penjara) kamu nenek. Pakai hati nenek, pembunuh),”teriak warga. Petugas kepolisian yang berjaga, bahkan berulang kali meminta agar warga tidak anarki, seperti melempar batu atau datang menganiaya para pelaku.

“Jangan balempar, jangan balempar, mokana di oto (jangan lempar, jangan lempar, nanti kena mobil),”kata petugas. Pelaksanaan rekonstruksi tersebut juga diikuti tim dari Kejaksaan Negeri Kota Gorontalo, dan Dinas Perlindungan Anak Kota Gorontalo. (tro)

Pos terkait