Pemikiran Ekonomi Berbasis Kawasan Ong Eng Die, Solusi Tepat Atasi Problem Ekonomi Gorontalo

Peserta memorial talk and expo dokumentasi 112 tahun Ong Eng Die, mantan Menteri Keuangan RI kelahiran Gorontalo. (foto : istimewa)

Gorontalopost.id – Pemikiran ekonomi berbasis kawasan yang pernah diterapkan Ong Eng Die, mantan Menteri Keuangan (Menkeu) RI ke-9, sangat tepat untuk diimplementasikan oleh pemerintah di Gorontalo. Ya, gaya pemikirannya bisa membangkitkan perekonomian berbagai daerah, termasuk Gorontalo.

Ong Eng Die merupakan keturunan Gorontalo. Ia lahir di daerah ini pada 20 Juni 1910. Ong Eng Die dinilai memiliki pemikiran besar bagaimana Indonesia terhubung melalui ekonomi kawasan.

Bacaan Lainnya

“Beliau punya pemikiran yang besar, yang jauh melebihi kampungnya sendiri. Beliau berfikir Indonesia yang terhubung melalui ekonomi kawasan,” kata Danial Andara Kalangie, selaku panitia pelaksana memorial talk dan expo dokumentasi 112 Ong Eng Die, Senin (20/6) di Aula Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Gorontalo.

Ia menuturkan, sejauh ini belum ada satu pun tokoh yang bisa memiliki pemikiran yang luar biasa seperti Ong Eng Die. Untuk itu, sambung Danial, pihaknya terinspirasi untuk menyelenggarakan memorial talk dan expo dokumentasi 112 Ong Eng Die.

“Kegiatan ini bukan hanya sekedar diperingati karena beliau lahir di Gorontalo ataupun beliau keturunan Gorontalo. Tapi, kita lihat sampai dengan saat ini belum ada tokoh yang berfikir seperti beliau. Dan sampai saat ini pula, belum ada pihak manapun yang membahas pemikiran beliau untuk selanjutnya diimplementasikan,” tuturnya.

Pada kegiatan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh ternama di Gorontalo ini, panitia menyelenggarakan sesi dialog dengan menghadirkan berbagai narasumber. Dalam sesi dialog ada hal yang menarik disampaikan oleh salah satu narasumber, yakni Dirut Gorontalo Post, Moh. Sirham.

Wartawan senior itu mendorong agar Ong Eng Die dibuatkan sebuah buku agar bisa lebih booming.
“Beliau (Ong Eng Die) ini adalah tokoh nasional asal Gorontalo. Kalau teman-teman, seperti pak Basri tidak menguak kisah hidup beliau, saya rasa tidak ada yang akan kenal. Terutama kaum milenial. Saya rasa ini kita harus boomingkan lagi dengan membuatkan buku,” saran Sirham.

Tidak hanya sampai dipembuatan buku, lanjut Sirham, kalau bisa pihak Pemprov Gorontalo mengabadikan nama Ong Eng Die dengan nama jalan.

“Jalan bypass itu kan belum ada nama, saya rasa tepat kalau jalan itu kita namai jalan beliau. Seperti tokoh-tokoh nasional asal Gorontalo lainnya, pak HB Jassin, pak Nani Wartabone, dan tokoh-tokoh lainnya. Nama mereka ini kan sudah diabadikan sebagai sebuah nama jalan di Gorontalo,” tandasnya.

Masih kata Sirham, sebenarnya Gorontalo memiliki banyak tokoh yang sudah banyak berbuat untuk Indonesia. Sayangnya, kata Sirham, sama sekali belum terekspose. Seperti Moh. Tayeb Gobel, tokoh nasional asal Gorontalo yang pertama kali menciptakan radio.
Kemudian Ciputra, dan masih banyak lagi.

“Meski demikian, saya sangat bersyukur dengan semangat yang dimiliki pak Basri Amin dan teman-teman semua, secara perlahan tokoh nasional asal Gorontalo mulai kita bisa ketahui,” ujar Sirham
.

Dorongan dan saran dari Sirham ini disambut baik salah satu undangan yang hadir. Yaitu Agus Lahinta. Menurut pengusaha Karawo ini, dengan mengabadikan dan mencatatkan sejarah suksesnya tokoh nasional asal Gorontalo, para generasi muda akan terinspirasi.

“Saya sangat bangga dengan pak Sirham dan teman-teman Gorontalo Post yang banyak menulis dan menginformasikan tentang tokoh-tokoh nasional asal Gorontalo. Begitu juga dengan teman-teman seperti pak Basri yang hobi menulis tokoh-tokoh Gorontalo. Ini adalah kebanggaan kita, jadi harus kita rawat. Saya adalah orang yang paling suka dengan sejarah. Apalagi kalau sejarah itu digoreskan oleh tokoh Gorontalo,” tutur Agus.(rwf)

Pos terkait