Nelayan Tak Boleh Tangkap Ikan, Khusus Oktober, KKP Minta Kumpul Sampah di Laut

Sakti Wahyu Trenggono

Gorontalopost.id – Kabar mengejutkan untuk para nelayan. Selama satu bulan pada Oktober 2022 mendatang, pemerintah tidak membolehkan para nelayan untuk menangkap ikan. Kegiatan nelayan akan digantikan dengan mengumpulkan sampah di laut. Nanti sampah itu akan dibeli pemerintah dengan nilai setara harga ikan terendah per kilogram.

Hal ini menjadi program bersih-bersih laut dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dinamakan ‘Bulan Cinta Laut’.

Bacaan Lainnya

“Bulan Cinta Laut program dimana nelayan tidak menangkap ikan selama satu bulan dalam satu tahun. Kegiatan menangkap ikan akan diganti dengan mengumpulkan sampah,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, dalam Rakernis Transformasi BRSDM Menuju BPSDM, di The Sultan Hotel & Residence, Selasa (2/8) dilansir CNBCIndonesia.com.

Trenggono menjelaskan nantinya sampah yang diambil oleh nelayan dan dikumpulkan, akan dihargai sesuai harga ikan terendah per kilogram. Sehingga nelayan masih bisa memperoleh pendapatan.

“Tapi pendapatan nya bukan dari ikan melainkan sampah laut,” kata Trenggono.
Selain itu mantan Wakil Menteri Pertahanan ini juga menegaskan kalau penerapan program ini akan dilakukan pada seluruh perairan Indonesia.

“Di bulan Oktober akan digerakkan pada seluruh wilayah Indonesia, dan program ini akan disampaikan juga pada forum G20 mendatang,” katanya.

Trenggono juga bercerita program ini juga sempat disampaikan pada UN Ocean Conference dan mendapatkan apresiasi, menjadi program riil untuk berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Larangan untuk nelayan menangkap ikan selama satu bulan pada tahun ini, memang sudah diisyaratkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sejak awal 2022.

Tepatnya pada 28 Januari saat kegiatan pencanangan ‘bulan bersih laut’. Pencanangan ini dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, usai acara bersih-bersih Pantai Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (28/1).

“Sebagai negara kepulauan atau maritim, orang Indonesia tidak boleh lagi memunggungi laut. Tapi jadikan laut sebagai halaman depan kita. Karena itu, laut harus selalu bersih,” kata dia saat itu, dikutip Gatra.

Bulan Bersih Laut sebagai bentuk pengingat akan upaya menjaga kebersihan pesisir dan laut serta mewujudkan laut dan langit biru.

Sakti mengatakan, cepatnya peningkatan populasi penduduk dan pembangunan daerah pesisir memberi ancaman besar pada laut dan layanan jasanya.

“Sampah yang tidak dikelola dengan baik telah menjadi ancaman bagi laut. Ini pastinya berdampak turunnya produktivitas laut. Eksploitasi besar-besaran hingga ikan habis dan banyaknya sampah akan menghancurkan kehidupan manusia,” katanya.

Di Bulan Bersih Laut, Sakti ingin dalam setahun terdapat satu bulan saat semua pihak bersama-sama membersihkan laut. Di bulan itu, nelayan tidak diperkenankan melaut dan menangkap ikan. Mereka diminta membersihkan sampah di pesisir dan akan mendapatkan imbalan dari setiap kilogram sampah yang diperoleh.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri dalam menjalankan program ini. Dibutuhkan kolaborasi dengan banyak organisasi masyarakat, lembaga pendanaan, dan pemerintah daerah,” ujarnya.

Selain menjadi komitmen KKP dalam menjaga laut, gerakan ini juga memberikan pesan kepada dunia bahwa Indonesia berkomitmen memperhatikan kesehatan laut dan memiliki tata kelola yang baik.

Terlebih lagi saat Indonesia dipercaya menjadi Ketua Presidensi G-20. KKP mendukung kebijakan ekonomi biru melalui pemanfaatan ruang laut dengan mempertimbangkan aspek ketahanan ekologi.

“Kita ingin memperlihatkan penerapan ekonomi biru pada anggota G-20 dengan mengeluarkan kebijakan penangkapan ikan terukur. Ekonomi biru adalah ekonomi yang berkelanjutan dan sehat,” jelasnya. (net/gp)

Pos terkait