Tolak Harga BBM, Aksi Mahasiswa Dibubarkan Aparat

Gorontalopost.id – Aliansi merah putih (AMP) yang merupakan gabungan sejumlah organisasi mahasiswa di Gorontalo, kembali melakukan aksi unjuk rasa menentang kebijakan Presiden Joko Widodo menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), Jumat (9/9) di kawasan bundaran Saronde, Kota Gorontalo. Selain persoalan BBM, mahasiswa juga mendesak agar pasal-pasal dalam RKUHP yang dianggap mengancam kebebasan menyampaikan aspirasi agar dicabut.

Aksi yang berlangsung sejak sore itu, harus dihentikan, lantaran aparat kepolisian memaksa mereka untuk bubar. Pembubaran dilakukan karena sudah melewati batas waktu penyampaian orasi yang ditentukan, yakni sampai pukul 18.00 wita. Sebelum diharuskan bubar, sebagian mahasiswa lebih dulu melakukan salat magrib di lokasi aksi, usai salat orasi kembali dilanjutkan.

Barikade aparat yang sejak awal mengawal aksi tersebut, kemudian dikerahkan,dan memaksa mereka untuk membubarkan diri. “Peringatan kedua, atas nama undang-undang, saya Kapolresta Gorontalo memerintahkan adik-adik semua supaya bubar. Waktu menyampaikan pendapat sudah selesai,”ujar Kapolres Gorontalo Kota, AKBP Ardi Rahananto melalui pengerasuara. Dari sisi mahasiswa, juga menyampaikan jika mereka tertib. Para masa aksi hanya meminta, sebelum bubar, mereka bisa ditemui Pj Gubernur Hamka Hendra Noer, dan Kapolda Gorontalo Irjen Helmy Santika.

Suara mahasiswa itu tak digubris, pengeras suara dari arah mobil polisi, terdengar perintah maju untuk barikade aparat keamana anti huruhara yang dilengkapi tameng dan pentongan. “Hu ha hu ha hu ha,” suara dari barisan polisi yang bergerek merengsek ke arah masa aksi. “Dalmas maju,” perintah dari pengeras suara, yang membuat barisan beralapis polisi itu terus bergerak. Di belakang barisan polisi terdapat satu mobil watercannon. Dari pengeras suara juga terdengar, agar para wartawan yang sedang bertugas meliput aksi tersbut, dan masyakat diminta untuk menjauh dari lokasi.

“Masyarakat dan wartawan tolong meninggalkan tempat,”perintah dari pengeras suara. Massa aksi makin terdesak, dan setelah berhasil memukul mundur massa aksi, aparat kemudian berbalik.

enderal Lapangan (Jenlap) AMP Arisaputra Batangale, menyayangkan aksi aparat dalam membubarkan massa aksi.

“Saya pikir pembubaran tadi (kemarin,red) bisa dikomunikasi secara baik tanpa harus memaksa dan terlihat aragonsi dalam pembubaran masa aksi tadi,”kata Jenderal Lapangan (Jenlap) AMP Arisaputra Batangale. Para mahasiswa pun dengan tertib bubar dan meninggalkan lokasi aksi. Arisaputra juga mengatakan, aksi mereka merupakan aksi damai. Yang mereka lakukan hanya menyampaikan orasi karena menilai kebijakan Presiden Joko Widodo tidak berpihak pada rakyat. “Kami aliansi merah putih bersepakat untuk bagaimana pada aksi kami untuk bisa mendatangkan pj gubernur dan Kapolda Gorontalo untuk bagaimana kemudian hadir di aksi kami,”
ujarnya. Hingga masa aksi bubar, baik Gubernur maupun Kapolda tidak menemui mereka. “Kami tidak anarkis, aksi kami damai, tapi di lapangan pengamanan sungguh ketat,”katanya.

Aksi yang berlangsung sejak sore hingga bakda magrib itu, memang mendapat pengawalan ketat aparat. Ratusan personel gabungan dari Polda Gorontalo dan Polres Gorontalo Kota dikerahkan untuk pengamanan, kendaraan taktis anti huruhara juga dikerahkan. Kawasan SPBU yang berdekatan dengan lokasi aksi bahkan diberi kawat duri untuk menghalau massa merengsek masuk. Akibatnya, SPBU tersebut juga harus tutup beroperasi selama aksi unjuk rasa. Pada aksi sebelumnya, sempat terlibat bentrok dengan aparat, karena mahasiswa memaksa ingin menguasai SPBU. Sejumlah mahasiswa dilaporkan terluka, serta anggota kepolisian juga ada yang terluka dan harus mendapat perawatan rumah sakit.

Kapolres Gorontalo Kota, AKBP Ardi Rahananto, kepada wartawan di lokasi aksi mengatakan, pembubaran aksi dilakukan karena tidak sesuai lagi dengan standa operasional prosedur (SOP) pelaksanaan unjuk rasa.

“Kita melaksanakan sesuai dengan SOP, dimana jam 18:00 itu harus sudah bubar,” ungkap Kapolres Gorontalo Kota, AKBP Ardi Rahananto. Kata dia, sebelum masa aksi dibubarkan, Polisi lebih dulu melakukan langkah persuasif dan preventif, dengan memberikan imbauan agar massa aksi segera membubarkan diri. Kapolres bersyukur, imbauan itu dituruti, dan mahasiswa membubarkan diri. “Alhamdulillah, setelah kita berikan himbauan dan peringatan, adik-adik mahasiswa kita bisa membubarkan diri dengan tertib,”ujarnya. “Saya mengucapkan terimakasih,”tambah Kapolres. (tro/tr79)

Comment