Ibu Paruh Baya Ditemukan Menggenaskan, Tanpa Busana, Terdapat Luka di Kepala dan Bahu

Sejumlah petugas kepolisian saat melakukan olah TKP atas penemuan jasad Hapipa Latif (41) warga Desa Limula, Kecamatan Wanggarasi, Selasa (2/11) kemarin.

Gorontalopost.id – Warga kembali dibuat geger dengan adanya penemuan sosok perempuan yang diketahui bernama Hapipa Yasin (41), warga Desa Limbula, Kecamatan Wanggarasi, Kabupaten Pohuwato, pada Selasa (22/11) kemarin. Secara mengenaskan, Ma Satu (sapaan akrab korban) ditemukan dalam kondisi berlumuran darah dan tak sadarkan diri oleh adiknya sendiri Latif Yasin.

Dari informasi yang dirangkum, ditemukannya Hapipa dalam kondisi mengenaskan pertama kali diketahui oleh sang adik Latif yang saat itu hendak mengantarkan makanan kepada kakaknya, Hapipa. Hapipa sendiri memang hanya tinggal sebatangkara di rumah peninggalan orang tuanya.

Bacaan Lainnya

Saat tiba di depan rumah, Latif terkejut melihat ada percikan darah berseliweran di depan rumah. Khawatir terjadi sesuatu kepada sang kakak, dirinya lantas masuk kedalam rumah dan memeriksa keberadaan kakaknya di dalam kamar.

Kekhawatiran Latif pun semakin menjadi-jadi karena mendapati sang kakak tergeletak tak sadarkan diri dengan kondisi tanpa busana dan luka dibagian belakang kepala serta memar di kedua sisi bahu korban.

Panik, Latif pun segera berteriak meminta pertolongan tetangga. Korban pun langsung dilarikan ke Puskesmas Wanggarasi. Meski sempat mendapatkan tindakan medis, Hapipa akhirnya menghembuskan nafas terkahirnya pada pukul 13.00 Wita

Saat dikonfirmasi, Kapolres Pohuwato AKBP Joko Sulistiono, melalui Kasat Reserse Kriminal, Iptu Arie Agustyanto Yoss yang disampaikan KBO Satreskrim, Ipda Yoftan Robert Frans, menyebutkan pihaknya tengah mendalami kasus tersebut dengan mengambil keterangan sejumlah saksi serta barang bukti di TKP.

“Untuk sementara kita belum bisa menyimpulkan kalau ini murni pembunuhan atau ada tanda-tanda kekerasan. Karena sampai saat ini kita masih menunggu hasil Autopsi yang akan dilakukan besok,” ungkap Ipda Yoftan saat ditemui di RSUD Bumi Panua, Selasa (22/11) kemarin.

Lanjut Ipda Yoftan, dari keterangan beberapa saksi, korban selama ini hanya tinggal sendiri dirumahnya dan korban mengalami keterbelakangan mental. Atas tewasnya Hapipa yang tidak wajar, keluarga pun meminta agar hal itu dapat diproses

“Keluarga merasa kematiannya tidak wajar sehinga ditindak lanjuti serta diusut oleh pihak berwajib. Kita pun sudah membentuk tim untuk melakukan penyelidikan lebih dalam guna menungkap dugaan peristiwa penganiayaan tersebut,” pungkasnya.

Informasi lain menyebutkan, Hapipa sendiri terakhir kali dilihat oleh warga sekitar pada pukul 08.00 Wita, beberapa jam setelah ditemukan dengan kondisi mengenaskan. (ryn)

Pos terkait