PLN UPDK Gorontalo Tanam Ribuan Pohon

Gorontalopost.id – PT. PLN Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan (UPDK) Gorontalo, kembali melakukan penghijauan di Kawasan Suaka Margasatwa Nantu – Boliyohuto, tepatnya di Desa Bontula, Asparaga, Kabupaten Gorontalo. Kali ini, sebanyak 4.000 ribu bibit pohon ditanam di wilayah itu, dengan tetap memberdayakan warga masyarakat setempat.

Kepala PLN UPDK Gorontalo, Muhammad Iqbal menerangkan, program ini dalam rangka Hari Menanam Pohon Indonesia, yang setiap 28 November diperingati. Kegiatan serupa juga serentak dilakukan PLN se Indonesia.

Pohon yang ditanam, terdiri dari pohon produktif dan non produktif. Hal ini, lanjut Muhammad Iqbal, sesuai dengan harapan Menteri BUMN, Erick Thohir, terkait Tanggung Jawab Sosial Terhadap Lingkungan (TJSL).

“Beberapa Unit PLN secara serempak melakukan penanaman di seluruh Indonesia. Untuk totalnya, pohon produktif sebanyak 93.593, pohon mangrove sebanyak 126.500 batang,”kata Muhammad Iqbal, saat menyampaikan pada pertemuan yang berlangsung di Balai Pertemuan Kantor Sementara Taman Hutan Raya (TAHURA), Desa Bontula, Asparaga, Senin, (28/11).

Aksi tanam ribuan pohon oleh PLN ini, turut diikuti Kepala Seksi BKSDA wilayah II Gorontalo, perwakilan Pemerintah Provinsi Gorontalo, Pemerintah Kabupaten Gorontalo, Pemerintah Kecamatan Asparaga, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Pemerintah Desa, dan masyarakat setempat. Muhammad Iqbal menjelaskan, bahwa tujuan program ini guna pemulihan ekosistem lingkungan hidup. Disatu sisi lagi, kegiatan tersebut selaras dengan salah satu aspirasi program transformasi PLN, yaitu Green.

“Green memiliki visi untuk melindungi generasi masa depan dengan menjaga lingkungan. Disamping itu, untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat, agar ikut menjaga alam. Selain sebagai upaya penghijauan, kegiatan menanam bibit pohon dapat meningkatkan kelestarian lingkungan, dan merupakan salah satu upaya mengantisipasi perubahan iklim global,”terangnya.
PLN UPDK Gorontalo sendiri, sepanjang 2022 ini telah menanam sebanyak 9.970 batang pohon. Terdiri dari pohon mangrove 820 batang, tanaman produktif 5.150 batang, kemudian kali ini ditambah 4.000 batang lagi yang berlokasi di Desa Bontula.

Adapun rinciannya lanjut dia, pada Januari – Maret 2022 lalu, pihaknya telah menanam Nyatoh sebanyak 1.500 batang, durian 1.250 batang, dan jambu mente sebanyak 1.250 batang yang difokuskan di Desa Bontula, Kawasan Suaka Margasatwa Nantu – Boliyohuto.

Lalu pada April – September 2022, menanam mangrove 820 batang di lokasi PLTU Anggrek, Gorontalo Utara. Sebelumnya, pada April 2022, di lokasi PLTU tersebut, telah ditanam pohon Gamelia (Jati) 450 batang, Mahoni 450 batang, mangga 125 batang, dan Alpukat sebanyak 125 batang.

“Nah, hari ini sebanyak 4.000 batang pohon lagi, siap ditanam di Desa Bontula. Diharapkan, kegiatan ini akan menjadi manfaat buat generasi kita mendatang. Mari kita bersama-sama memulai hal baik ini. Untuk kita dan bumi kita. Dari pohon untuk kita, dan dari kita menanam pohon,”tutur Muhammad Iqbal.

Kata dia, pentignya kehadiran pohon, yang merupakan sumber oksigen bagi manusia. Melalui daun-daun pohon inilah, keluar oksigen yang kemudian dihirup dan mengalir di darah. Selanjutnya, organ-organ tubuh manusia dapat berfungsi untuk hidup dan kehidupan.

“Begitu gambaran oksigen untuk kita. Lebih besarnya lagi, keberadaan pohon dapat menurunkan suhu bumi yang kian hari kian memanas. Es di kutub mencair, cuaca memanas dan bencana kekeringan ada disana sini. Sehingganya, untuk meredam itu semua, kita harus dan bisa menanam pohon,”imbuhnya.

Di tempat sama, Kepala BKSDA Wilayah II Gorontalo, Samsudin Hadju, mengapresiasi penanaman pohon tersebut. Selain menerangkan tentang eksistensi Suaka Margasatwa Nantu – Boliyohuto secara kongkret, ia juga meminta kebersamaan semua pihak, agar terus menjaga kelestarian alam Hutan Nantu dan sekitarnya.

“Desa Bontula ini berbatasan langsung dengan Hutan Nantu. Dan ini satu-satunya hutan yang istilahnya masih perawan. Hutan Nantu sendiri merupakan kawasan hutan koservasi yang dilindungi dengan status Suaka Margasatwa. Olehnya kita harus bisa menjaganya untuk kehidupan,”kata Samsudin Hadju.

Sesuai peraturan perundang-undangan kata dia, hutan produksi dimanfaatkan hasil hutannya. Baik kayu dan non kayu. Sedangkan hutan konservasi, ditunjuk berdasarkan potensi, baik flora maupun fauna yang ada di dalam. Tujuannya tak lain untuk kegiatan-kegiatan seperti penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, serta tujuan yang lainnya untuk sosialisasi atau edukasi. (gp/adv)

Comment