Bunga Cengkeh dan Erika

Penggalan Kenang Perjumpaan Dengan Kak Yoyo Suryana

 Oleh:
Alim Saleh Niode

Auff der Heide bluht ein kleines Blumelein”. Lagu ini di diciptakan Kapellmeister terkemuka: Herms Niel sekitar tahun 1930-an. Merujuk sebuah nama bunga famili Ericaceae yang jumlah spesis nya berkisar 860 jenis, lagu tersebut kemudian lebih di kenal dengan nama Erika (Erica Tetralix). Di Jerman populer di sebut Heidekrauter. Dentang musik marching yang mengiringinya terdengar bersama derak langkah prajurit menggugah semangat, membuat dada berdebar-debar (untuk saya sendiri). Debaranya yang berkobar membawa kenang ke Manado tahun ’83-’84, saya merasa ada sesuatu yanag hilang. Saat itu yang nampak di pelupuk mata memang bukan bunga Erika tetapi adalah bunga cengkeh dengan semerbak aroma bau nya yang tajam menyengat. Di beberapa tempat di punggung jalanan terlihat hamparan cengkeh yang sedang di jemur. Gemuruh oplet Suzuki ST 20 yang saya tumpangi melengkapi perekaman situasi oleh indera penglihat, pendengar dan pencium minus perasa (lidah). Lagu Erika saya sebut di sini karena gelegar semangat dan musik nya, bukan ideologi di balik lagu, maaf.

Sesungguhnya Erika dan Cengkeh (bagi saya) menjajarkan sebuah makna. Jarak perantauan dari Gorontalo ke Manado hanya berkisar 500 km perjalanan darat, waktu itu di tempuh dengan mini bus Marina dalam waktu tercepat sekitar 20 jam. Permenungan perjalanan dengan konteks hijratur rasul kali ini di tujukan untuk menuntut ilmu sebagai mahasiswa S1 setelah gagal meraih cita-cita menjadi seorang tentara. Di dukung oleh orang tua dan keluarga inisiasi diri ke dunia baru membawa Langkah ke sebuah arena kegiatan extrakurikuler pada sebuah institusi kemahasiswaan bernama Himpunan Mahasiswa Islam. Dua tokoh pertama yang membuat saya bergetar pada training training awal – mohon izin – saya boleh sebutkan di sini: kakanda Harun N.P. Wasolo (Allah yarham) dan kakanda Yoyo Suryana. Ini kekurangan saya dalam berkenalan dan bergaul, maklum anak kampung yang pergaulanya terbatas. Padahal selain itu ternyata begitu banyak pula para senior yang hebat; sebutlah di antaranya (yang masih hidup sesuai abjad) Kanda: Ade Adam Noh, Anwar Sandiah, Gusnar Ismail, Marten Taha, Natsir Sandiah, Rahman Conoras, Ridwan Nggilu, Syaiful Bahri Ruray, dll bil khusus kanda Aris Patangari (Allah yarham)

Kak Yoyo menjadi makin akrab karena selain di HMI juga ketua Remaja Masjid Kampus Unsrat-IKIP yang kemudian berubah nama menjadi masjid Ulil Al-Baab. Selain menjadi khatib tetap (terjadwal), saya menjadi anggota pengurus di sini bersama-sama Marwan Razak, Natsir Sandiah, Safri Rahman, Sahrul Polontalo, Abdul Hamid (Allah yarham), Hamzah Yusuf, Faiz Mahmud, Marwan Yantu, Sofyan Patajai, Mohamad Ramli, Andi Baso Patajai, Faisal, Faiz Mahmud, Sutirman, Syamsia Karinda, Nurhayati Lahay, Olha S. Niode, Hartin Kasim, Evi Neu, Moly Ahmad, menjadi Darni Mozin, Suwarno Tuiyo (Allah yarham), Voldi Litie, Sutrisno Goma, Baramuli Pontoh, Abdul Mutalib Antai, Nixon ahmad, La Kolaka, Marlina Malajim, Sis Ujaili, Mirza Iskandar Muda (maaf untuk tidak terlalu panjang, dan dengan alasan tertentu, saya tidak dapat sebutkan semuanya).

Progam dan kegiatan masjid Ulil Al-baab membuat kami rutin berjumpa, minimal seminggu sekali. Kak Yoyo memberi materi pelajaran Bahasa Inggris dan Arab sekaligus dari kajian ayat Qur’an suci (hingga kini catatan pengajian dan kursus tersebut masih saya simpan). Perpustakaan masjid terawat dengan berbagai buku terbaru waktu itu seperti karya karya Fazlur Rahman, cak Nur, Ali Syari’ati, Alfin Tofler, Naquib Alatas, Iqbal, Rashid Rida, Hasan Albana, Sayyid Qutb, Jamaluddin Al Afgani, tak ketinggalan karya sastra Khalil Gibran. Updating informasi keummatan kampus selalu di refresh dengan bulletin Salman KAU dari ITB yang di motori Sahrul Polontalo. Pada waktu yang Panjang dari tahun 1985 sampai sekitar awal tahun 1989 kami tergiring dalam diskusi diskusi kecendekiaan muslim yang terkoneksi dengan PEDATI (Percakapan Cendekiawan Islam) di lingkungan kampus UI ( saat itu di Jawa sedang berlangsung pematangan situasi ke arah pembentukan ICMI) dan perdebatan hangat intelektual islam.

Tentu saja atas izin pak Madun Utiah sebagai Ketua Panitia Pembangunan Masjid dan pengurus ta’mir nya. Pemikiran cendekiawan seperti cak Nur, Amien Rais, Ahmad Syafi’I Maarif, A.M. Syaifuddin, Jalaludin Rahmat, Abdurrahman Wahid, Imaduddin Abdurrahim, menjadi bagian perdebatan di masjid Kampus. Saya harus menyebut di sini diskusi di kelompok kajian Optika yang di drive kak Ipoel, dkk. Saya tak terlibat di situ karena harus mengamalkan fantasiru fil ardh yang saya terima sejak awal dari kak Yoyo. Kak Yoyo mendampingi dahaga perdebatan dan pergerakan islam pada kami, bersamaan pada saat yang sama beliau harus berjuang atas hak-hak nya sebagai warga negara untuk mengabdi sebagai akademisi di almamaternya.

Beringsut “sejengkal” ke samping, atas kebutuhan mahasiswa islam di sekitar Kelurahan Bahu dan Kleak pada situasi dan kondisi waktu itu kami merintis dan membentuk pula Forum Komunikasi Mahasiswa Muslim Manado (FKMM). Menjadi keharusan bagi forum untuk menghadirkan kak Yoyo sebagai mentor dan pemberi spirit baik agamis maupun ideologis. Sebagai ketua HMI cabang Manado periode sebelum kepemimpinan Marten Taha, cs juga sebagai seorang “vokalis” kongres nasional HMI ke 15 di Medan, ceramah-ceramah kak Yoyo selalu membuat kami gaspol melihat “rumput segar” tidak dengan kacamata kuda.

Tahun 1987 saya di tunjuk DPP Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI – kini BKPRMI) menjadi ketua formatur pembentukan DPW BKPMI di Sulawesi Utara. Misi dan tugas ini membuat saya harus berkomunikasi intensif dengan seluruh jajaran remaja masjid – awalnya – se kota Manado. Di Kabupaten Minahasa saya berjumpa dan berdiskusi dengan tokoh: Drs Suharto (bersamaan waktu itu beliau menjabat PD3 FPIPS IKIP Manado). Tentu saja, selain Ki.Hi. A.K. Abraham (Allah yarham) sebagai ketua MUI Sulut, dan Ki.Hi. Abdurrahman Latukau, Lc sebagai ketua Dewan Masjid, sekaligus sebagai penasehat BKPMI. Sependek komunikasi dan koordinasi dengan para tokoh itu saya tak bisa berlepas dengan ke-mentor-an kak Yoyo.

Suatu waktu saya terlibat diskusi dengan beberapa ketua remaja masjid termasuk ketua remaja masjid miftahul Jannah: R.Hartini Melo yang ternyata kemudian adalah seketaris pimpinan wilayah Nasyiatul Aisiyah Sulawesi Utara. Dari Hartini (yang selanjutnya pada 23 Januari 1994 menjadi isteri saya), saya mendapat tambahan kelengkapan posisi kak Yoyo sebagi rujukan, tokoh dan jangkar pergerakan ke Muhamadiyah-an Bersama para tokoh di Manado. “Jika ketemu di bioskop berpotensi akan hilang di bioskop, ketemu di jalan demikian pula. Insha Allah jika ketemu di masjid tak kan hilang kecuali masjid nya hilang”. Itu penggalan ceramah kak Yoyo pada sebuah kegiatan tazkir remaja masjid yang saya sampaikan ke Hartini dan sampai kini menjadi kenangan kami.

Di sekitar tahun-tahun tersebut di atas aktifitas ormas Islam di Manado sedang giat-giatnya. Saya tidak menganggap itu sebagai “juggernault” nya Gidens. Bersamaan pemikiran futurolog Alvin Tofler dan Patricia Aburdance yang lagi trendy, gelombang semangat kolektif umat islam membuat saya larut hampir kehabisan waktu berada di berbagai organisasi. Selain aktifitas terpusat di atas, saya harus berada pula di Pimpinan Wilayah Pelajar Islam Indonesia Sulawesi Utara sebagai ketua yang fokus pada urusan internal. Pada waktu yang sama ustazah Syahrazad Syaukah Al Bahry, salah satu pimpinan pusat al Irsyad al Islamiyah mengajak saya bergabung menjadi salah satu pimpinan baik di kota Manado maupun di level wilayah Sulut. Saya tak kan lagi menceritakan aktifitas lain nya bersama Hamdan Helmi Do’E yang merintis IMM di Manado, Suwarno Tuiyo (Allah yarham) yang merintis PMII, maupun kakanda Kamajaya Al-katuuk sebagai ketua GP Ansor Sulut. Yang ingin saya sebut di sini adalah kak Yoyo yang selalu ada di ruang waktu perjumpaan aktifitas tersebut. Dia ada di sana juga ada di sini.

Tahun 1989 ke tahun 1990 meski tak dapat di sebut sebagai puncak kurva progresifitas pergerakan islam, khususnya di Manado terasa ada suatu yang hilang. Kak Yoyo berangkat ke Amerika melanjutkan studi nya di sana. Berbagai aktifitas sesudah itu membuat saya selalu ingat beliau. Sekitar 93-94 dua puluh empat organisasi kemasyarakatan pemuda islam (OKPI) berkumpul di Gedung Serimpi, Jl.Kolonel Sugiono untuk melakukan sebuah Gerakan. Saya merasa kehilangan referensi, padahal saya di tunjuk oleh forum itu untuk menyusun konsep dan memberi nama konseptualisasi atasnya, meski pada akhirnya naskah tersebut berhasil dengan judul: “Kaji Gagas Generasi Muda Sulawesi Utara”, di singkat JAS GARDA Sulut yang pengetikanya turut di bantu oleh Rusni Tety Ente.

Tahun 1994, setelah berkonsultasi dengan kanda Dr. Jasin Tuloli (saat itu belum professor), saya hijrah ke Gorontalo. Seterusnya selama kurang lebih 34 tahun kami tak pernah bersua. Kamis 27 April 2023 M/6 Syawal 144 H, alhamdulillah kami bisa berjumpa. “Satu-satunya perasaan yang ku rasakan hanya dapat terkatakan kepada anda yang pernah merasakan”. Kak Yoyo mampir ke kantor Ombudsman Gorontalo di sela ziarah ke semua handai tolan baik yang sudah meninggal maupun kepada kami semua yang masih hidup, di Gorontalo. Dr. Femy, ibu Evy Ne’u dan Dr. Faiz turut mendampingi beliau.

Kami lanjutkan bersama ziarah yang sama setelah peluk haru penuh sukacita. Sepertinya tak ada yang berubah. Kalaupun ada mungkin sedikit perubahan fisik pada tampilan kak Yoyo, seiring usia seperti juga pada kami. Dia tetap tegar kokoh sebagai tokoh, dia berpikir, menalar, konsisten, dalam waktu yang sama tegar bergerak, berjuang, survive tak kenal lelah apalagi menyerah. Saya teringat hiruk pikuk pendefinisian tentang: apa itu intelektual? Rupanya formula de Tracy yang populer dalam “Penghianatan Kaum Cendekiawan” tak cukup menjadi pembatas langit diksi “sakral” itu. Meski bukan suatu yang finish, batasan Gregor Mc Burn terasa moderat terterima: ciri utama intelektual dan ke-intelektual-an itu adalah “devote of idea”. Dia: kak Yoyo ada di langit itu.

Di tengah pelukan perjumpaan itu batin penciuman saya mengendus kembali aroma bunga cengkeh seperti 39 tahun yang lalu dada saya berdebar mendengar ceramahnya. Seperti debar yang sama ketika “spirit kanan” saya mendengar lagu Erika! (*)

Comment