Prof.Winarni Monoarfa Memaknai Hari Kemerdekaan : Butuh ‘Jiwa Baru’, jadi Bangsa yang Visioner

gorontalopost.id – Gagap gempita perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 78 tahun 2023 sangat terasa, apalagi di Gorontalo. Nuansa merah putih ada dimana-mana, giat 17-an semarak dilakukan, tak hanya sehari tapi bakal terus berlangsung selama agustus. Masyarakat Gorontalo selalu menyambut istimewa hari kemerdekaan, hal itu karena Gorontalo punya jiwa patriorik sejak lama. 

Seperti yang diungkapkan Prof. Dr.Ir.Hj. Winarni Monoara, MS. Guru besar Universitas Hasanuddin (Unhas) ini mengatakan, Gorontalo tak perlu ragu sebagai ‘daerah istimewa’ dalam hal kemerdekaan dan pesatuan bangsa. Sebab hal ini suda ditunjukan tokoh-tokoh besar Gorontalo cejas dulu, seperti Nani Wartabone, dan Kusno Danupojo, dan komite 12, yang telah menyatakan proklamasi kemerdekaan Indonesia di Gorontalo, tiga tahun sebelum Soekarno dan Moh.Hatta membacakan proklamasi di Jakarta, tepatnya 23 Januari 1942. “Jiwa Gorontalo kita adalah jiwa patriotik, darah kita mengalir darah-darah Pejuang,”terang perempuan pertama peraih penghargaan wibawa seroja nugraha, Lemhanas RI tahun 2007 itu.

Kata dia, dalam sejarah, tak lama setelah Soekarno membacakan proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Gorontalo juga sukses membentuk Dewan Nasional yang tugasnya mengawal kemerdekaan itu, pergerakkanya bahkan sampai ke daerah Sulawesi Tengah. “Maka, jangan heran kalau pada akhir 1940an saja perempuan-perempuan pejuang kemerdekaan di Gorontalo sudah berhasil ‘membangun” gedung nasional yang sampai hari ini masih kokoh berdiri sebagai tempat berkumpul dan menggerakkan pendidikan kebangsaan dan pengabdian kepada masyarakat,”jelasnya. 

Sosok yang dianugerahi gelar pulanga oleh masyarakat adat Gorontalo, Ti Tidito Lo Hunggia atau seorang pemimpin perempuan yang cerdas cermat, peka, arif, bijaksana dan bersahaja ini, mengatakan, republik ini merdeka lantaran masyarakatnya memiliki tekad berani dan pendirian kokoh untuk menghapus segala bentuk penjajahan, karena menginjak keadilan dan hak-hak anak bangsa untuk makmur, mandiri, dan cerdas.

”kita dipaksa untuk tidak bisa berpikir baik dan menghasilkan kemakmuran kita sendiri, padahal negeri ini kaya, manusianya hebat, punya tradisi bahari dan etos berdagang ke mana-mana di Asia dan bahkan ke Eropa, itulah hakikat penjajahan,”terang Prof.Winarni yang pada tahun 2015 meraih penghargaan lencana Dharma Bakti Pramuka dari Presiden RI.  

Jadi, lebih lanjut Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bidang SDGs dan Kebijakan Energi ini mengatakan, perjuangan kemerdekaan di Gorontalo harus dimaknai sebagai keberanian orang Gorontalo dalam menentukan jalan pikiran sendiri, kemampuan ber-organisasi, dan melakukan perlawanan fisik, diplomasi politik, dan memanfaatkan propaganda media di forum-forum nasional. “Pejuang-pejuang kita di Gorontalo itu adalah orang-orang cerdas, pandai berorganisasi dan selalu dekat dengan masyarakat. Semua pemimpin kita di Gorontalo begitu karakternya.

Mereka selalu dekat dengan rakyat karena mereka peduli, amanah dan konsisten. Itu sebabnya, di masa-masa pergolakan, dukungan rakyat datang dari mana-mana. Bahkan kita tahu, pasukan Pak Nani Wartabone itu dikenal dengan “Pasukan Rimba”nya yang mampu bergerak di pelosok-pelosok – bergerilya di tahun 1950an, tetapi mereka juga sangat loyal dan disiplin kepada pemimpinnya. Sekali mereka menguasai kota, mereka pantang mundur melawan perusak-perusak Kemerdekaan Bangsa dan Cita-Cita Proklamasi 17 Agustus 1945,”ungkapnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Gorontalo (2012-2018) ini menambahkan, baginya, dimasa kini, yang dibutuhkan adalah pengorbanan-pengorbanan baru bagi nilai-nilai kejuangan kemerdekaan itu. Tak perlu lagi angkat senjata, dań bergerilya di hutan, tapi saat ini butuh kapasitas kerja, kepemimpinan, keteladanan, wawasan ilmu dan kerja-kerja masa depan yang konsisten untuk memerdekaan diri dan bangsa dari kemiskinan dan kebodohan. “Kan tidak mungkin lagi kita semua memikul senjata, sudah ada tentara dan polisi. Merdeka di abad ini harus visioner,”terang mantan Ketua presidium KAHMI Provinsi Gorontalo itu. 

Menurut dia, saat ini semua perpotensi dijajah oleh kemajuan ilmu pengetahuan, dan jaringan pasar global yang sangat kompleks. “Dan bisa saja menerpa Gorontalo kita dan Indonesia. Makanya, kita selalu butuh pembaruan jiwa, agar selalu ber jiwa baru, dan mempunyai gagasan-gagasan segar dalam memakmurkan Indonesia, khususnya Gorontalo,”terang Prof. Winarni.

Peraih penghargaan top 9 pejabat pimpinan tinggi madya (eselon I) teladan tingkat nasional, yang saat ini sedang mempersiapkan diri menuju kursi DPR RI itu, menekankan, jika merdeka itu, menuntut tanggungjawab, memintakan pengorbanan, dan kemampuan mengerjakan tugas-tugas masa depan. “Kita jangan hanya berpangku tangan dan bekerja biasa-biasa saja di abad ini. Kita juga jangan berpikir sempit dan hanya memikirkan kelompok atau olongan. Kita butuh bersama-sama sebagi satu bangsa,”tandas putri wartawan senior tanah air di-era 1960-an, H.Dien Monoarfa itu. (Tro)

Prof.Dr.Ir.Winarni Monoarfa, MS. (Ti Tidito Lo Hunggia)

Comment