Inayah Nazwa Sabila Umar, Siswi MAN 1 Gorontalo, Peserta Program Pertukaran KL-YES Berbagi Kisah Ramadan di Amerika, Host Family Siapkan Iftar dan Sahur

NAMA saya Inayah Nazwa Sabila Umar. Saya adalah siswa pertukaran pelajar dari Gorontalo ke Amerika Serikat dengan program Kennedy Ludgar Youth Exchange and Study (KL-YES) yang disponsori oleh Departemen Luar Negeri AS. Saya bersekolah di MAN 1 Kota Gorontalo.

Saat ini saya sudah 6 bulan berada di Amerika Serikat. Saya tinggal di rumah host family (keluarga angkat) di daerah pedesaan yang nyaman dengan halaman yang luas di daerah Wisconsin. Saya bersekolah di Argyle High School. Sekolah saya terbilang lumayan kecil, karena kami hanya memiliki 81 siswa di High School dan junior sebanyak 18 orang. Lokasi sekolah saya dekat dari rumah, saya biasanya ke sekolah diantar naik mobil oleh host dad (ayah angkat) dengan perjalanan selama 5 menit. Saya pulang sekolah naik bus.

Mom and Dad sudah banyak membantu saya dalam menemukan potensi diri dan selalu mendukung saya untuk mencoba hal-hal baru. Kita banyak mengunjungi tempat-tempat baru bersama dan mereka selalu dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Mereka membawa saya ke Culver’s, salah satu tempat makan yang wajib dikunjungi di Wisconsin. Mereka mengajak saya dan host sister bowling dan mengajarkan kami banyak board games. Host family juga mengajak pernah saya dan host sister ke Florida selama seminggu saat liburan akhir tahun dan mengunjungi Disney World disana. Host family saya selalu mendukung saya dan bersama-sama kami berusaha untuk menjadikan waktu exchange saya menjadi waktu yang bisa dikenang oleh kami.

Foto saya bersama teman-teman sekolah
Foto saya bersama teman-teman sekolah

Sebagai seorang Muslim, saya berpuasa selama bulan Ramadan ini walaupun di Amerika Serikat. Durasi puasa disini sekitar 14 jam. Sekarang sedang musim semi di Amerika, dan musim ini sedikit lebih panjang masa berpuasanya. Musim paling pendek masa berpuasanya adalah musim dingin yaitu selama 10 jam, dan musim paling panjang masa berpuasanya adalah musim panas yaitu selama 16 jam. Karena tidak ada adzan ataupun bedug yang mengingatkan waktu sahur dan berbuka, saya menggunakan aplikasi “Muslim Pro” untuk mengetahui jam makan sahur dan jam berbuka puasa di Argyle.

Untuk sahur dan berbuka, saya biasanya makan nasi goreng, mie goreng, pizza, dan seringnya host mom saya yang memasak karena saya sering pulang dari sekolah hingga jam 8 malam untuk latihan track (jenis olahraga atletik) dan play (drama pertunjukan) pulang lebih awal, saya membantu host mom untuk memasak dan baking bersama. Host family saya sangat mendukung saya selama saya berpuasa. Host mom saya memasak iftar untuk saya saat saya harus pulang telat ke rumah karena latihan dan membantu saya menyiapkan makanan saat malam untuk sahur. Host dad membantu saya dengan selalu memastikan dan mengingatkan saya untuk membawa buah-buahan atau biskuit untuk berbuka di sekolah saat saya harus tinggal di sekolah sampai malam untuk latihan. Pelatih saya juga sangat pengertian, mereka selalu memastikan kalau saya baik-baik saja selama latihan dan mengingatkan saya waktu berbuka, karena latihan play saya biasanya dari jam 6-8 malam dan waktu berbuka adalah sekitar jam 7 malam.

Menjadi seorang minoritas di Amerika adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya. Saya mendapatkan banyak sekali pertanyaan dari orang-orang mengenai hijab, sholat, dan Ramadan. Orang-orang di sekitar saya sangat mengerti saya dan mereka tidak pernah menjadikan perbedaan di antara kami sebagai penghalang untuk berkomunikasi. Alhamdulillah, sejauh ini saya tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang.  Teman-teman dan host family membantu saya dengan selalu memastikan saat kita makan diluar kalau menu makanan yang saya ingin pesan tidak mengandung babi. Guru saya juga paham saat saya harus ke kantor atau ruangan kosong untuk sholat dzuhur, bahkan guru saya selalu mengingatkan kalau sudah waktu dzuhur. Host family juga paham soal sholat dan Ramadan, jadi mereka banyak membantu saya.

Perbedaan utama adalah suasana ramai saat mendekati waktu berbuka puasa yang biasa disebut ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa sambil mencari takjil. Disini semuanya tetap sama, tidak ada yang berbeda. Mendekati waktu berbuka, biasanya saya membantu Ibu menyiapkan iftar dan sekolah selesai sebelum waktunya berbuka, tetapi selama disini saya menghabiskan sebagian besar waktu iftar saya di sekolah bersama teman-teman. Disini juga tidak ada tradisi masjid membangunkan sahur dan adzan tidak berkumandang, jadi saya set alarm adzan di waktu shalat di aplikasi biar tetap bisa dengar suara adzan.

Bagi saya, Ramadan di Amerika jauh dari keluarga dan rumah mengajarkan saya banyak hal tentang kehidupan. Saya belajar makna toleransi dari teman-teman yang menghargai saya yang sedang berpuasa, dari para pelatih yang selalu mengingatkkan saya untuk tidak terlalu memforsir diri dan bahkan mengingatkan waktu berbuka, dan dari host family yang dengan senang hati menyiapkan iftar untuk saya. Saya belajar untuk menikmati setiap waktu yang saya habiskan bersama orang-orang disini, karena saya sadar walaupun saya rindu dengan kebersamaan selama Ramadan di Gorontalo, Ramadan di negara orang adalah kesempatan yang berharga. Ramadhan kali ini begitu berkesan karena bisa belajar banyak hal terutama tentang indahnya toleransi beragama, saling menghargai, dan saling menjaga(*)

Comment