Penikaman di Terminal 42 Motif Dendam

12 Orang Tersangka, Satu Pelaku Residivis

Gorontalopost.id, GORONTALO – Motif penikaman yang terjadi di kawasan terminal 42, Kota Gorontalo akhirnya terungkap.

Dari hasil penyelidikan secara maraton yang dilakukan penyidik Polsek Kota Utara dibackup langsung Polres Gorontalo Kota, ternyata penikaman itu bermotif dendam.

Hal ini diungkapkan Kapolresta Kota Gorontalo,Kombespol Dr.Ade Permana,S.I.K,M.Si saat jumpa pers, Selasa (14/05/2024).

“Berdasarkan hasil pemeriksaan dan pendalaman, motif dibalik aksi penikaman ini adalah balas dendam,”ungkap Ade Permana.

Lebih lanjut Ade Permana menjelaskan, kasus ini berawal dari kejadian tiga bulan lalu di komplek terminal 42 Andalas.

Dari kejadian itu, maka pada Kamis (9/05/2024) dini hari, kelompok A merencanakan aksi balas dendam terhadap salah satu kelompok B yang pada tiga bulan lalu telah menganiaya hingga menewaskan salah satu anggota kelompok A.

Saat hendak melakukan aksi balas dendam, kelompok A menggunakan dua unit kendaraan roda 4 dan 1 kendaraan roda dua untuk mendatangi rumah kelompok B, namun tidak menemukannya, Kelompok A kemudian mencari kelompok B di sekitar tempat olahraga dan menemukan empat orang.

Salah seorang dari kelompok B melarikan diri, namun satu orang dianiaya menggunakan senjata tajam (Sajam).

Atas kejadian itu, Korban mengalami luka tusukan di pinggang bagian atas yang cukup dalam dan lebar (7 cm x 20-30 cm).

Dalam waktu kurang dari 10 jam, Satuan Reskrim bersama Polsek Kota Utara berhasil mengidentifikasi dan menangkap 11 pelaku.

“Dari pengembangan terhadap satu tersangka yang ditangkap lebih dulu, kami akhirnya menangkap, 12 orang pelaku lainnya.,”jelas Ade Permana.

Menurut mantan Kapolres Gorontalo ini, salah satu tersangka merupakan residivis Polresta Kota Gorontalo tegas Ade masih terus mendalami kasus ini untuk mengungkap motif yang lebih mendalam lagi, dan menuntaskan proses hukum terhadap para tersangka.

Kapolres Ade Permana menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban, serta tidak main hakim sendiri.

“Dalam kasus ini para tersangka dijerat pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan berat dengan ancaman 8 tahun penjara,”tutup perwira tiga melati di pundaknya ini. (Mg-03)

Comment